Apa Tindakan Umat Islam terhadap Ahmadiyah

27 06 2008

Minggu, 22 Jun 08 07:03 WIB

Saya ingin bertanya bagaimana tindakan umat Islam terhadap salah aliran (ahmadiyah) menurut cara-cara Nabi Besar Muhamad SAW sehingga tidak terjadi kesalahan pamaham (ikannya dapat airnya tetap tenang) artinya persoalan ini selesai tanpa ada masalah lagi terima kasih

Hamba Allah

Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga 14 abad kemudian, tidak ada seorang pun yang dari umat Islam ini yang berpandangan ada nabi setelah kenabian Muhammad SAW. Jangankan orang lain, bahkan kalau hari ini ada seorang beriman mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW sekalipun, posisi Nabi Muhammad dalam mimpunya itu sudah bukan lagi sebagai nabi. Karena kenabian Muhammad SAW telah tunai dan sempurna, sejak wafatnya beliau.

Demikian juga dengan Nabi Isa ‘alaihissalam yang insya Allah nanti akan turun ke dunia. Saat bersama umat Islam nanti, beliau tidak lagi berposisi sebagai nabi, melainkan sebagai manusia biasa. Mungkin sebutannya mantan nabi atau pensiunan nabi, atau apa lah.

Lalu agama apa yang dijalankan oleh beliau?

Jawabnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW saat beliau menjadi nabi 14 abad yang lampau.

Kalau para mantan nabi saja apabila muncul di zaman sekarang ini, tidak mungkin jadi nabi, apalagi sekedar seorang kaki tangan inteljen Inggris yang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Jelas sekali dia meracau ketika mengaku dirinya Nabi. Ahmadiyah kemudian diusir dari Pakistan dan bercokol sekarang ini di negeri asalnya, Inggris.

Maka ide untuk mendirikan agama baru yang bernama Ahmadiyah itu jelas-jelas memang bertujuan untuk merusak agama yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW.

Dan kepentingan agen asing di dalamnya memang tidak bisa dipungkiri lagi. Bodoh atau pura-pura bodoh kalau masih saja ada dari orang muslim pura-pura tidak tahu bahwa Ahmadiyah tidak lain hanyalah agenda asing.

Dan makanlah itu istilah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sebab urusan agama Ahmadiyah bukan sekedar kebebasan dan berkeyakinan, tapi lebih dari itu. urusan Ahmadiyah tidak lebih dari sekedar project tadah hujan, yang intinya bagaimana kita diminta mengerjakan order-order dari para yahudi yang memang kebanyakan duit.

Kalau hari ini umat Islam bentrok secara horizontal, di mana ada sebagian kalangan yang kurang mengerti persoalan, lalu mau-maunya dijadikan pendukung Ahmadiyah, memang itu merupakan salah satu tujuan agen asing.

Bahakn kalau perlu pendukung yang telah buta mata hatinya itu dibenturkan secara fisik kepada seluruh umat Islam. Entah sihir apa yang dipakai, tapi dari sekian banyak teknik yang dilakukan, yang paling jelas berbicara adalah sihir dollar, kucuran dana, bantuan asing atau apa lagi istilahnya.

Berharap ada dialog?

Wah jangan terlalu berharap. Rasanya para agen asing itu memang tidak akan mau berdialog, karena tujuan mereka sama sekali jauh dari mencari kebenaran.

Kebenaran adalah benda asing yang tidak punya tempat di hati mereka. Kalau mau mencari kebenaran, pasti sejak awal mereka tidak masuk ke agama Ahmadiyah.

Tujuan mereka sekedar jadi kacung-kacung kelas teri para pemegang dana yang tak terbatas. Tugas mereka sekedar menari mengikuti tabuhan genderang setan dengan tarian-tarian aneh yang menginjak nurani.

Apapun akan mereka lakukan termasuk kalau harus menancapkan belati karatan di ulu hati umat Islam. Ibarat virus influenza, mereka bergerak memanfaatkan keawaman, kebohodan, dan kabut pekat yang menyelubungi aqidah umat.

Lihatlah siapa sih yang ikut ajaran agama Ahmadiyah tapi mengaku muslim? Rata-rata orang yang tidak punya bekal ilmu agama yang benar. Mohon maaf, bukan ingin menyepelekan, tapi jangan kaget kalau para tokohnya sekedar untuk membaca Quran pun tidak benar bacaannya. Jangan tanya tentang kemampuan berbahasa Arab, mereka lebih tidak peduli lagi.

Bahkan kuliah di Universitas yang mengajarkan ilmu-ilmu keIslaman pun juga tidak. Karena doktirn sesat Ahmadiyah itu tidak layak dijadikan ilmu dan tidak ada tempatnya di kampus dan perguruan tinggi.

Bahkan sekedar jadi buku pun juga tidak layak. Makanya mereka merekam sendiri kaset-kaset dan video sesat produk mereka. Bahkan terpaksa harus mendirikan stasiun TV sendiri. Sebab tidak ada penerbit yang dengan bodoh mau menerbitkan idelogi kufur macam itu. Juga tidak ada stasiun TV yang mau menyiarkan ajaran mereka.

Namun karena ini projek yahudi international yang dananya segede gaban, bikin percetakan atau stasiun TV pun dengan mudah dikerjakan. Walau pun tidak ada yang baca buku terbitan mereka dan tidak ada nonton TV mereka. Siapa yang mau baca kalau isinya sesat? Siapa yang mau nonton kalau isinya cuma doktrin dan cekok pahit?

Dan jangan bicara tentang ulama di dalam Ahmadiyah. Jangankan satu ulama, setengah ulama pun kita tidak menemukan. Jadi ajaran Ahmadiyah ini 100% adalah bikinan zionis yahudi. Tokoh-tokoh Ahmadiyah yang kita lihat di TV kalau pas diwawancarai, jelas bukan ulama. Satu pun syarat tidak ada dalam diri mereka.

Kalau dialukan dialog dan debat, tidak ada satu pun yang mau dan berani menghadapi. Ibarat pepatah, lempar batu sembunyi tangan. Sebab mereka tahu persis bahwa adu argumentasi itu hanya akan menelanjangi borok-borok ajaran agama Ahmadiyah. Dan percuma saja semua itu dilakukan.

Yang paling efektif buat agama Ahmadiyah adalah bergerilya mencari mangsa, yaitu umat Islam yang jauh dari agama. Lewat berbagai doktrin sesat dan bodoh, ada saja korbannya. Mereka memang didukung sepenuhnya oleh pemerintah asing anti Islam, yang masih saja bercokol di negeri ini, lewat tekanan politiknya, lewat dana-dana yang sangat kuat, lewat tekanan ekonomi, dan berbagai fasilitas yang memang telah jauh hari dipersiapkan.

Kebetulan umat Islam sendiri masih tidur pulas dininabobo oleh paham permisifisme, sekuleris dan juga liberalis. Tiga ‘agama baru’ ini pun tidak muncul begitu saja. Kelompok liberalis misalnya, tiba-tiba punya komunitas, punya media dan juga jaringan, tidak lain karena memang dibiayai oleh asing.

Jadi sebenarnya lucu juga, karena keributan gara-gara adanya agama baru Ahmadiyah yang merusak akidah umat Islam ternyata dilakukan oleh antek-antek asing. Antek-antek lalu punya anak buah yang tidak lain masih beragama Islam. Tapi hatinya sudah mengalami kerusakan parah. Setidaknya sudah luntur terpesona oleh dollar. Selain hati, yang mengalami rusak parah adalah mata mereka, karena sudah berubah menjadi hijau melihat dolar.

Jadi untuk menghentikan keributan ini, mudah saja. Intinya bagaimana agar kucuran dolar itu diputus atau dihentikan, setidaknya dibuat tersendat-sendat, pasti agama Ahmadiyah pun selesai riwayatnya. Ibarat mobil kehabisan bensin, tidak mungkin berjalan.

Tapi selama kucuran dolar masih deras mengalir, apa pun bisa mereka beli. Kalau perlu presiden sebuah negara pun bisa dibeli, apalagi dikombinasikan dengan sifat sang presiden yang bernyali kecil, bermental kurcaci dan selalu siap melaksanakan semua permintaan negara superpower.

Dengan dolar yang berlimpah, untuk sekedar membeli kekuatan pers, LSM anti Islam atau berupa dukungan polisi dan kejaksaaan agar berlaku timpang, ah perkara yang mudah.

Agama Ahmadiyah memang akan tumbur subur di negeri yang apa-apa bisa dibeli seperti Indonesia ini. Yang penting ada kucuran dolar dari luar negeri.

Ide Gila

Mungkin ini ide gila. Bagaimana seandainya umat Islam mengumpulkan duit yang banyak, misalnya dari negara penghasil minyak yang duitnya tidak habis dimakan tujuh turunan. Buat apa?

Duit itu bisa digunakan untuk ‘membeli’ suara LSM anti Islam, dari pada suara mereka sumbang karena selalu dipasok dolar oleh asing, mendingan disumpal dengan uang dari umat Islam. Tentu jumlahnya harus lebih besar dari yang bisa ditawarkan oleh agen asing itu.

Termasuk untuk ‘membeli’ keberpihakan pers dan polisi serta aparat penegak hukum lainnya, yang selama ini jelas keberpihakannya kepada agen dan kepentingan asing. Sebab yang bicara kan uang.

Dan tentu saja duit itu bisa juga ditawarkan kepada pemuka Ahmadiyah untuk ganti cerita. Misalnya mereka diminta mengakui kesalahan yang selama ini dilakukan.

Pasti akan berhasil, sebab tujuan para penggerak dan pembela Ahmadiyah di negeri ini memang semata hanya duit dan duit. Dengan duit, mereka rela menggadaikan akidah dan bicara apa saja, termasuk menginjak-injak akidah ahlisunnah wal jamaah.

Wallahu ‘alam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc – eramuslim online





PKS Launching Caleg Balita

27 06 2008

JAKARTA – Di saat sejumlah partai politik memulai pendaftaran calon anggota legislatif (caleg), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) justru telah menyelesaikan susunan calon legislatif (caleg). Bahkan, kemarin (26/6), daftar calon anggota dewan yang akan diajukan dalam Pemilu 2009 itu resmi di-launching.

Menurut Presiden PKS Tifatul Sembiring, partainya sengaja bergerak lebih cepat ketimbang partai lain agar bisa tampil lebih siap dalam menyongsong pemilu yang dilaksanakan April 2009 nanti.

”Kami harus bergerak jauh melangkah, kompak, dan cepat,” ujarnya di sela launching nasional daftar caleg PKS di Hotel Millenium Jakarta kemarin (26/6).

Tifatul menyatakan, daftar caleg PKS diluncurkan di awal agar 314 caleg DPR itu bisa lebih dekat dengan masyarakat. Mereka segera diminta terjun ke tengah masyarakat untuk melatih kemampuan berkomunikasi. ”Jangan sampai orang melihat, kami adalah elite yang tidak mau turun ke bawah,” tandasnya.

Dari komposisi daftar caleg yang diajukan, ungkap Tifatul, mayoritas masih berusia 35-40 tahun. Para caleg berusia muda itu diharapkan akan dapat memberi warna di DPR mendatang. ”Program caleg balita (bawah lima puluh tahun, Red) itu menjadi komitmen kami,” tegas politisi asal Sumatera Utara tersebut. (dyn/rdl/mk)

sumber: jawapos online





Jelang Pemilu, Brigade 09 PKS Apel Siaga

26 06 2008

“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”, ujar Anis Matta yang menirukan sebuah pepatah.

PK-Sejahtera Online: Klikpks_sulsel – Apel Siaga pembekalan tim inti pemenangan PILKADA Makassar 2008 diselenggarakan DPD PKS Kota Makassar, (22/06) di lapangan Hertasning. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh kader dan simpatisan PKS Kota Makassar. Beberapa Anggota Legislatif PKS juga tampak hadir dalam apel siaga ini.

Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta, yang turut hadir dalam apel siaga ini memberikan semangat baru kepada kader PKS. “PKS mampu memimpin bangsa ini. Dibuktikan oleh banyak survey, PKS adalah partai yang paling diharapkan mampu melakukan perubahan di republik ini”, ungkap Anis Matta dalam orasi politiknya setelah melakukan pelantikan Barisan Siaga Demokrasi 09 (Brigade 09), yang merupakan Tim inti pemenangan PILKADA Makassar.

Berkaitan dengan 100 tahun kebangkitan nasional, saatnya bangkit dan menjadikan bangsa ini membanggakan di mata internasional. Akhiri kekecewaan dan kekhawatiran, bangkit dari keterpurukan. Saat ini adalah era pemimpin tangguh, hal ini dimaknai sebagai sebuah motivasi besar bagi PKS untuk terus bekerja dan terus berpikir untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa.

“Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”, sebuah pepatah yang diulang-ulang Anis dalam apel siaga, menegaskan bahwa PKS sudah menapakkan kakinya dalam kancah perpolitikan nasional, maka kemenangan harus diraih.(is)

sumber: PKS Online





Presiden PKS: SBY Harus Keluarkan Keppres Pembubaran Ahmadiyah

25 06 2008

JAKARTA–Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), harus segera mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Pembubaran Ahmadiyah. Hal itu diungkapkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring, di Jakarta, kemarin (19/6).

Menurut Tifatul, keberadaan Ahmadiyah tidak bisa dimungkiri merupakan penistaan terhadap Islam. Sehingga, Surat Keputusan Bersama (SKB) dari tiga menteri itu belum bisa menghilangkan akar penistaan ini. ”Pembekuan pun tidak cukup,” ujarnya.

Tifatul mengatakan, Indonesia perlu mencontoh sikap negara lain yang mayoritas penduduknya Muslim. ”Misalnya, Pakistan yang dengan tegas menolak penistaan dan menyatakan Ahmadiyah bukan Islam,” kata Tifatul. Merujuk Pakistan, menurut Tifatul, Presiden SBY harus secara resmi menyatakan Ahmadiyah merupakan agama tersendiri. “Namanya, agama Ahmadiyah,” ungkapnya.

Pengeluaran Keppres ataupun pernyataan resmi Ahmadiyah bukan Islam, menurut Tifatul, sangat mendesak. Pasalnya, jika mereka tetap eksis di Indonesia, sementara mereka menyandang nama Islam, para pemeluk Ahmadiyah akan leluasa melakukan ibadah haji di Makkah. ”Padahal, sudah jelas Saudi Arabia melarang Ahmadiyah di negaranya,” ungkapnya.

Masalah ini, kata Tifatul, sebenarnya sudah jelas. Karena, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem), sudah menyatakan Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. ”Bahkan, Ahlussunnah Waljama’ah sedunia pun telah menyatakan Ahmadiyah sesat,” ungkapnya.

Selain itu, Tifatul mengatakan, agama lain tidak perlu ikut campur masalah ini dengan dalih adanya kebebasan beragama dan berkeyakinan. Karena, katanya, seandainya ada orang lain mengaku Yesus, pasti orang Kristen Katolik ataupun Protestan akan marah. “Jadi, ini masalah umat Islam yang telah dinodai Ahmadiyah,” ujarnya.

Lalu, Tifatul pun mengecam pihak negara asing non-Muslim yang telah ikut campur secara provokatif. Karena, ini masalah internal umat Islam Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera, lanjutnya, dengan tegas menyatakan Ahmadiyah sesat. Selain itu, ia pun mendukung upaya umat Islam di Indonesia yang melakukan desakan kepada SBY. ”Namun, tidak secara anarkis,” ujarnya. Lalu, ia menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Sehingga, tidak ada alasan SBY menolak mengeluarkan Keppres itu.

Senada dengan Tifatul, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Surya Dharma Ali, mengatakan pembubaran Ahmadiyah itu harga mati. Karena, itu sudah masuk kategori penistaan terhadap Islam. Selain itu, kata Surya, pemerintah jangan mau diintervensi pihak asing dalam kebijakkan ini. ”Ini menyangkut umat Islam yang merupakan warga mayoritas di Indonesia,” katanya. Jika SBY masih belum bisa mengeluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah, menurutnya, hanya tinggal satu alternatif lain. ”Jangan pakai nama Islam,” tegasnya. (c64 )

Sumber: Republika





Dinamika Sosial Budaya PKS

20 06 2008

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid “klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Banyak pengamat mencermati kebangkitan Partai Keadilan Sejahtera sebagai bukti kemampuan partai politik (parpol) Islam untuk mengemas isu-isu publik, semisal antikorupsi dan pelayanan sosial.

Padahal, selama ini parpol Islam dan partai berbasis agama pada umumnya, terpenjara isu-isu religius dan ideologis. Kemenangan PKS bersama mitra koalisinya dalam pemilihan kepala daerah terkini di Jawa Barat (PAN) dan di Sumatera Utara (PPP dan PBB) menunjukkan partai Islam bisa menandingi partai nasionalis dan menangkal pragmatisme dalam derajat tertentu.

Analisis pengamat lebih terfokus pada efektivitas mesin politik atau popularitas kandidat. Belum ada yang secara serius menelaah faktor sosial-budaya.Kebangkitan PKS didukung lahirnya generasi baru di era transisi (1998-2008). Generasi ini telah mematahkan ambisi para elite status quo.

Kita bisa menyebutnya generasi AAC (Ayat-ayat Cinta)—meminjam fenomena budaya terkini, sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazi yang terjual 450.000 kopi dan filmnya ditonton hampir 4 juta orang. Generasi ini dicirikan sifat kosmopolitan,semisal Fahri, yang kuliah di Universitas Al-Azhar (Mesir) dan bergaul dengan kawan berbeda latar: Kristen Koptik (Maria), modern Turki (Aisha), tradisional Arab (Naora), selain akrab dengan gadis Indonesia (Nurul).

Terlepas dari alur cerita AAC yang melankolis, hingga Presiden SBY menitikkan air mata ketika menontonnya, kisah Fahri adalah sublimasi dari pengalaman nyata ribuan kaum muda Indonesia yang kuliah/bekerja di mancanegara.Apa hubungannya dengan PKS? Pertama,pendiri PKS adalah kaum muda yang menikmati berkah pendidikan di era Orde Baru, sebagian di antara mereka alumni mancanegara.

Berbeda dengan tesis Sadanand Dhume (Yale Global Online, 1 Desember 2005) yang menyebut PKS sebagai ancaman nasional, lebih berbahaya lewat suara (ballot) ketimbang senjata (bullet).Dhume yang mantan wartawan Far Eastern Economic Review itu berkesimpulan PKS adalah partai radikal karena kadernya kebanyakan alumni Timur Tengah. Itu konklusi menggelikan karena sebagian besar pimpinan PKS bukan alumni Timur Tengah. Ada yang lulusan perguruan tinggi di Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Presiden pertama PK, Nur Mahmudi Ismail adalah alumni Universitas Texas. Presiden kedua,Hidayat Nur Wahid,memang alumni Universitas Madinah. Presiden pertama PKS yang jarang disebut orang, Muzammil Yusuf, produk asli Universitas Indonesia, walau sempat kursus bahasa Inggris di Australia dan kursus bahasa Arab di Mesir.

Presiden ketiga PKS, Tifatul Sembiring, yang menggantikan Hidayat, tercatat sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Trisakti. Dengan formasi seperti itu,terbantahkan pandangan yang menyebut PKS “partai fundamentalis”lantaran pimpinannya lulusan Timur Tengah, seperti simpulan Walter Lohman (The Heritage Foundation, 28 April 2008 ) yang mengikuti logika dangkal Dhume.

Simpulan lebih masuk akal adalah kecenderungan kosmopolitanisme PKS amat kuat karena tergolong generasi yang terpapar informasi global. Saat ini, sebagian kader PKS menyebar di berbagai negara Eropa, selain ada yang kuliah di Australia, Singapura,dan Taiwan. Fakta kedua, penulis novel AAC Habiburrahman El -Shirazy termasuk lingkungan dekat PKS.

Kang Abik yang menjadi guru di pesantren di Jawa Tengah itu mengakui kedekatannya dengan komunitas tarbiyah amat berperan dalam proses kreatifnya. Habib tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP), asosiasi penulis muda yang beranggotakan 2.000 penulis tersebar di 125 kota. Menurut Taufik Ismail, “FLP adalah laboratorium penulis muda terbesar dalam sejarah sastra Indonesia.”Tentu saja FLP tak berhubungan secara organisasional dengan PKS karena sifatnya nonpartisan.

Namun,publik mengetahui kader dan simpatisan PKS sangat aktif membentuk lembaga sosial dan asosiasi profesional di berbagai bidang. Perluasan pengaruh lembaga itu pada gilirannya menentukan pembesaran politik PKS. Perlu dicermati secara khusus kreativitas budaya yang dipelopori PKS seperti terwakili dalam acara milad yang diikuti 150.000 simpatisannya.

Dalam atraksi panggung tampil grup nasyid Izzatul Islam, Ruhul Jadid, Shoutul Harakah, dan Ebiet Beat A Nasyid adalah grup acapella yang direvitalisasi komunitas PKS sejak 1980-an. Berbeda dengan kekuatan politik lain yang tak peduli perkembangan seni-budaya, apalagi gerakan politik Islam modernis yang disalahpahami suka menentang tradisi,maka PKS mengemas substansi budaya Islam dengan unik. Kreativitas mereka lebih dahsyat dibandingkan capaian politik yang diraih dalam pemilu.

Pada 1980, awal kemunculan “nasyidpergerakan” denganteks Arab yang diadopsi dari Mesir dan Palestina. Nasyid seperti “Ghuraba” (Kelompok Asing) disenandungkan mahasiswa LIPIA, kampus bahasa Arab yang disponsori Kedubes Arab Saudi.Anis Matta (Sekjen PKS) dan Ulil Abshar Abdalla (pendiri Jaringan Islam Liberal) termasuk alumni perguruan yang dituding pengamat asing sebagai penyebar ideologi Wahabisme.

Sepuluh tahun kemudian, nasyid marak berwarna “populer” seperti kelompok Snada (Jakarta) dan Suara Persaudaraan (Malang). Begitu ngetopnya Snada hingga diundang DPP PDIP saat meresmikan Baitul Muslimin. Di samping kelompok domestik tumbuh subur, grup nasyid Raihan asal Malaysia juga berebut pasar Indonesia.

Penggemar nasyid semakin luas kemudian membuka pasar baru bagi kemunculan lagu rohani.

Sulis dan Haddad Alwi dengan salawat Nabi serta Opick dengan pop religius. Pascareformasi, tampil “nasyid cadas” dipelopori Izzatul Islam (Depok). Tema lagunya seputar perjuangan warga di daerah konflik Maluku,Poso, dan Aceh. Gelombang nasyid cadas yang mengentak-entak dengan suara perkusi dilengkapi Ruhul Jadid (Depok) dan Shoutul Harakah (Bandung).

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid “klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Nasyid rap-Sunda ini dari sudut pandang sosial-budaya turut mengangkat popularitas pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Komunitas PKS telah menembus sekat budaya yang selama ini mengerangkeng partai Islam atau partai berbasis agama. PKS menjadi contoh, betapa partai politik dapat membangun basis sosial baru dan menawarkan wawasan budaya alternatif. (*)

Sapto Waluyo
Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform





Calon PKS Panen Dukungan

19 06 2008

Pilkada Jawa Tengah

Hal ini ditandai dengan dideklarasikannya dukungan dari 17 DPC Partai Damai Sejahtera se Jawa. Etika Halawa bahwa dukungan diberikan kepada pasangan Sukawi-Sudarto karena bisa ngemong semua golongan.

PK-Sejahtera Online: Sukawi Calon Gubernur yang diusung oleh PKS dan Partai Demokrat melakukan kampanye di Kota Solo 11 Juni lalu. Kampanye diawali dengan melakukan  aksi simpatik berupa pembagian bunga kepada pengguna jalan di perempatan kota Barat Solo. Menurut Humas Kampanye Sukawi-Sudharto, Tamrin Kurniawan, pemilihan format kampanye yang lebih soft diyakini akan lebih menarik simpati masyarakat dari pada model kampanye konvoi di jalanan yang akan mengganggu aktifitas di jalan raya, selain itu pasangan sukawi-sudharto lebih memperbanyak dialog dengan masyarakat secara langsung untuk mengetahui dan memahami masalah yang ada di masyarakat.

Kemudian kampanye dilanjutkan dengan melakukan silaturahmi ke salah satu tokoh agama di Solo yaitu Drs. Ahmad Sukina pimpinan organisasi Majelis Tafsir Al Qur’an. Dalam kunjungan tersebut Cagub Sukawi mohon do’a restu dan dukungan dari keluarga besar MTA yang ada di Jawa Tengah, dan sukawi menegaskan bahwa masyarakat yang sejahtera dan religius merupakan komitmennya dalam membangun Jawa Tengah kedepan dan hal ini sudah dibuktikan pada saat dia memimpin Kota Semarang. Menanggapi kunjungan Cagub Sukawi, pimpinan MTA, Drs Ahmad Sukino menyambut baik dan beliau menegaskan bahwa kedepan apabila terpilih, Sukawi-Sudaharto diharapkan mampu menjaga habitat aktifitas dakwah yang dilakukan oleh MTA maupun kaum muslimin pada umumnya.

Kunjungan dilanjutkan dengan melakukan pertemuan dengan masyarakat kecill yang bertempat di Stasiun Ledoksari. Dalam kunjungan tersebut Sukawi disambut ratusan orang pengemudi becak dan para pengamen yang tergabung dalam paguyuban pengemudi becak surakarta. Dalam pertemuan tersebut Cagub Sukawi mendengarkan keluhan para pengemudi becak yang selama ini termarginalkan dan berjanji akan memperhatikan aspirasi mereka semua.

Selain itu dukungan untuk pasangan Sukawi-Sudarto semakin bertambah. Hal ini ditandai dengan dideklarasikannya dukungan dari 17 DPC Partai Damai Sejahtera se Jawa Tengah yakni DPC Grobogan, Demak, Kota Semarang, Temanggung, Banjar Negara, Wonosobo, Pemalang, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Cilacap, Kabupaten Semarang dan Purworejo. Menurut Ketua DPC Ketua DPC PDS Grobogan, Etika Halawa bahwa dukungan diberikan kepada pasangan Sukawi-Sudarto karena bisa ngemong semua golongan. (Tamrin Kurniawan)





Ir Suswono (Aleg PKS) Akui Terima Rp 150 Juta

18 06 2008

JAKARTA, SELASA – Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) DPR Ir Suswono MA mengakui menerima uang sebesar Rp 150 juta untuk memuluskan persetujuan DPR dalam alih fungsi hutan bakau atau mangrove di Tanjung Api-api, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun, uang tersebut sudah diserahkan ke KPK karena termasuk dalam klasifikasi gratifikasi.

“Saya memang pernah menerima dana dalam bentuk cek sebesar Rp 150 juta. Tapi dana tersebut sudah saya serahkan ke penyidik KPK. Kedatangan saya hari ini, salah satunya juga untuk mengklarifikasi masalah itu,” ujar Suswono di Gedung KPK di Jalan H Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/6).

Suswono yang menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPR memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus alih fungsi hutan bakau Tanjung Api-api yang dilindungi negara menjadi kawasan Pelabuhan International Tanjung Api-api.

Suswono tiba di KPK pukul 10.05, mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam. Dia datang sendiri dan langsung menuju ruang penerimaan tamu di lantai dasar KPK, kemudian menuju ruang penyidikan. Sebelum masuk ke ruangan penyidikan, Suswono memberi pernyataan bahwa dia datang ke KPK sudah beberapa kali. “Saya datang ke KPK sudah beberapa kali dan hari ini sudah kesekian kalinya untuk memberi penjalasan sekitar proses dan prosesdur alih fungsi hutan bakau tersebut. Saya lebih banyak berkaitan dengan prosedurnya, ” ujar Suswono.

Suswono mengaku heran sebab kasus ini sudah diketahui satu setengah tahun lalu, tetapi tiba- tiba kembali mencuat. Awal tahun ini, KPK menduga pembangunan pelabuhan ini terindikasi korupsi. Tiga pejabat pemerintah Sumatera Selatan telash dimintai keterangan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka adalah Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Musyrif Suwardi, Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Dodi Supriadi, serta Kadis Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Sumsel Dharna Dachan.

Dalam kasus yang sama, KPK juga sudah memeriksa Gubernur Sumsel Syahrial Oesman dan pedangdut Kristina, istri Al Amin Nasution, tersangka kasus suap alih fungsi lahan di Bintan, Kepulauan Riau. Bahkan anggota DPR dari Partai Demokrat Sarjan Tahir telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.
(Persda Network/Herman, Domu Damian Ambarita)

Sumber: HU KOMPAS





Prof Azyumardi Azra: Tentang PKS

18 06 2008

Banyak kalangan Parpol mungkin agak nervous dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan ini. Khususnya setelah dua pasang cagub dan cawagub yang didukung PKS (sebenarnya lewat koalisi dengan partai lain) memenangkan pilkada di Jawa Barat dan Sumatra Utara.

Bukan hanya kalangan parpol lainnya, tetapi juga sementara pengamat dalam dan luar negeri mengambil kasus di kedua daerah tersebut sebagai pertanda awal dari peningkatan suara PKS dalam Pemilu 2009 nanti. Mengapa nervous? Tidak lain karena selama ini PKS dianggap sebagai partai yang akan mengubah Indonesia menjadi ‘negara Islam’ dan menerapkan ‘syariah’, tegasnya hukum hudud, potong tangan, dan rajam kepada para pelaku kejahatan yang menurut fikih klasik perlu dijatuhi hukuman seperti itu. PKS juga tidak jarang dianggap lebih berorientasi transnasional; disebut-sebut banyak dipengaruhi organisasi al-Ikhwan al-Muslimun yang sampai sekarang terlarang di Mesir.

Apakah PKS memang seperti itu? Saya beruntung mendapat kesempatan mendalami PKS ketika diundang pimpinan PKS dalam Milad ke-10 PKS, Ahad pekan lalu (20/4/ 2008). Bersamaan dengan itu juga diselenggarakan pembahasan buku Memperjuangkan Masyarakat Madani: Falsafah Dasar dan Platform Kebijakan Pembangunan PK Sejahtera 2008 dengan pembahas Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie; Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati; dan saya sendiri.

Diminta membahas platform PKS dalam bidang sosial-budaya (termasuk agama), saya menemukan bahwa buku setebal xxii+543 halaman ini secara komprehensif membahas berbagai subjek, sejak dari paradigma PKS; kondisi nasional dan permasalahan bangsa dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya; lingkungan strategis dan Indonesia yang dicitacitakan, sampai pada platform PKS untuk mengatasi berbagai masalah tersebut menuju Indonesia yang dicita-citakan. Saya percaya, tidak banyak parpol yang memiliki platform yang selengkap dan serinci platform PKS; meski dalam segi-segi tertentu, tidak banyak pembahasan tentang ‘bagaimana’ cara dan langkah sistematis mewujudkan platform tersebut.

Negara Indonesia bagaimanakah yang dicita- citakan PKS? Jawabannya jelas dalam tujuan pendirian PKS: “Tujuan didirikannya PK Sejahtera adalah terwujudnya masyarakat madani yang adil dan sejahtera yang diridhai Allah SWT dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. PK Sejahtera menyadari pluralitas etnik dan agama masyarakat Indonesia yang mengisi wilayah beribu pulau dan beratus suku yang membentang dari Sabang hingga Merauke”.

‘Masyarakat madani’. Inilah salah satu kata kunci untuk lebih memahami PKS. Apa yang dimaksud PKS dengan ‘masyarakat madani’? Masyarakat madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.

Pengertian genuine dari masyarakat madani itu perlu dipadukan dengan konteks masyarakat Indonesia di masa kini yang terikat dalam ukhuwah Islamiyyah (ikatan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyyah (ikatan kemanusiaan) dalam bingkai NKRI”.

Dengan platform ini, sekali lagi, jelas, PKS tidaklah bertujuan membentuk ‘negara Islam’ atau yang semacamnya, melainkan bertujuan membentuk masyarakat madani. Jelas pula, masyarakat madani yang diinginkan PKS adalah masyarakat madani yang berbasiskan agama (religious-based civil society); bukanlah masyarakat sipil atau masyarakat kewargaan yang dalam sejumlah wacana tentang civil society tidak memiliki konotasi apalagi hubungan dengan agama. Konsep masyarakat madani yang akhir ini pada dasarnya merupakan teoretisasi dari pengalaman di Eropa Timur dan Amerika Latin.

Dalam konteks penciptaan masyarakat madani itu yang memungkinkan bagi umat beragama untuk melaksanakan ajaran dan menghadirkan syariah Islam yang rahmatan lil alamin, PKS menawarkan gagasan tentang ‘objektivikasi Islam’, atau persisnya ‘objektivikasi nilai-nilai Islam’. Hemat saya, ini adalah sebuah gagasan atau bahkan konsep yang sangat menarik.

Apa yang dimaksud PKS dengan ‘objektivikasi Islam’ tersebut? Dalam perspektif PKS, objektivikasi nilai-nilai Islam adalah proses transposisi konsep atau ideologi dari wilayah personal-subjektif ke ranah publikobjektif; dari ranah internal merambah ke wilayah eksternal, agar bisa diterima secara luas oleh publik. Secara subjektif, setiap Muslim berkeinginan agar syariat Islam diterapkan oleh negara. Namun, keinginan subjektif tersebut agar dapat dimenangkan di wilayah publik mesti memenuhi kriteria-kriteria tertentu seperti: kesesuaian dengan konteks dari segi ruang dan waktu; mempunyai hubungan rasional-organik; memenuhi rule of the game; memenuhi prinsip pluralitas dan kehidupan bersama (non-diskriminatif) dan; resolusi konflik agar konsep dan ide tadi memenuhi prinsip keadilan publik.

Sumber: Republika





Kader PKS Putihkan GOR Pancasila

17 06 2008

Irawulan – DetikSurabaya

<!–

–>Surabaya – Ribuan kader dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur pukul 08.00 WIB memenuhi GOR Pancasila, Jalan Indragiri, Surabaya, Minggu (8/6/2008). Kader dan simpatisan ini datang untuk menghadiri Milad.

Momentum Milad ke-10 ini untuk mensolidkan struktur, kader dan simpatisan serta sebagai ajang ikrar bersama pemenangan cagub Jatim pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Ikrar pemenangan KarSa ini rencananya akan dibacakan Kawilda Jatim Bali Sigit Sosiantomo.

Ikrar tersebut berisi, “Kami para kader dan simpatisan PKS dengan sepenuh hati berikrar, bertekad untuk memenangkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 dalam rangka mewujudkan Jawa Timur yang bersih Peduli Profesional menuju Masyarakat adil dan Sejahtera”.

Rencananya pembacaan ikrar ini akan disaksikan oleh Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid dan sejumlah tokoh PKS lainnya seperti Ketua Umum DPW PKS Jatim Ja’far Tri Kuswahyono.

Selain orasi politik, Milad ke-10 yang dihadiri kader PKS baik dari Surabaya, Resik dan Sidoarjo juga digelar bazar dan hiburan. (wln/bdh)





Mari Bersatu!

13 06 2008

Tampaknya perbedaan dan perselisihan, kemungkinan besar, masih akan mewarnai dan sekaligus mengurangi kegembiraan serta kebahagiaan kita dalam menyambut ‘iedul fitri tahun 1428 H. ini, seperti tahun lalu, dan juga seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal semula kita semua berharap dengan sangat optimis bahwa, mulai Ramadhan tahun 1428 ini, akan terjadi kesepakatan, melalui mekanisme tertentu, untuk menyatukan penetapan awal Ramadhan, ‘iedul fitri dan ‘iedul adha. Khususnya harapan dan optimisme itu diperkuat oleh adanya langkah-langkah mulia dari para tokoh ormas besar dan berbagai pihak lainnya, dan juga yang diprakarsai Pemerintah, ke arah penyatuan yang kita harapkan bersama. Dan kita semua wajib mendukung seluruh langkah dan upaya mulia itu, seraya terus membesarkan harapan dan berdoa, semoga hasil terbaik berupa kesepakatan dan penyatuan yang didambakan, secepatnya bisa terwujud. Dan alangkah indah serta luar biasanya seandainya itu bisa terjadi sejak ‘iedul fitri 1428 H. ini !

Sedangkan dalam konteks Partai Keadilan Sejahtera, maka harapan, seruan dan dukungan ke arah penyatuan yang didamba-damba itu, telah diwujudkan dan dibuktikan dalam bentuk langkah kongkret, yang menegaskan kesiapan penuh dan total untuk bertoleransi dan berkompromi. Karena Partai Keadilan Sejahtera meyakini bahwa, kesepakatan dan penyatuan itu tidak mungkin bisa terealisir kecuali dengan syarat adanya kesiapan semua pihak, utamanya ormas-ormas besar dan Pemerintah, untuk bertoleransi dan berkompromi. Dan salah satu bukti riil atas kesungguhan dukungan PKS ke arah penyatuan, dan totalitas kesiapannya untuk bertoleransi dan berkompromi tersebut, adalah dengan telah diterbitkannya bayan Dewan Syariah Pusat Partai Keadilan Sejahtera tentang awal Ramadhan dan ‘Iedul Fitri 1428 H., yang tidak lagi membuat penetapan sendiri seperti tahun-tahun sebelumnya, melainkan memberikan keleluasaan kepada para kader dan simpatisan untuk dapat menyesuaikan diri dalam melaksanakan ibadah Ramadhan dan ‘Iedul Fitri bersama dengan kaum muslimin di sekitarnya.

Bahkan bukti yang lebih kongkret lagi telah ditunjukkan oleh Dewan Syariah Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Timur tahun lalu, dengan keputusannya tentang hari ‘Iedul Fitri 1427 H., yang “berbeda” dengan penetapan Dewan Syariah Pusat! Dimana keputusan itu diambil, sama sekali bukan karena pertimbangan hasil hisab ataupun rukyah yang kontroversial waktu itu, melainkan murni karena menyesuaikan diri dan dalam rangka menyertai jumhur (mayoritas) kaum muslimin di Jawa Timur, yang sepakat ber-‘iedul fitri sehari mendahului jumhur di level nasional.

Ya, kita memang tetap wajib berharap dengan optimis – dan terus berusaha – agar terwujud kesepakatan dan penyatuan itu. Karena secara syar’i (menurut syariat) dan waqi’i (tuntutan realita) memang semestinya ummat Islam di Indonesia bersepakat dan bersatu dalam mengawali shaum Ramadhan, ber-’iedul fitri dan ber-’iedul adha, dan tidak semestinya selalu berbeda atau berselisih. Setidaknya ada tiga alasan penting yang perlu dicatat dan digaris bawahi disini:

Pertama: Karena ibadah shaum Ramadhan, ‘iedul fitri dan ‘iedul adha memang merupakan ibadah-ibadah dan momen-momen yang bersifat jama’iyah, yakni ibadah dan momen kebersamaan, kesepakatan dan persatuan, serta tidak boleh secara sendiri-sendiri, pribadi-pribadi dan masing-masing. Mengawali puasa mesti bersama-sama, tidak masing-masing. Bergembira dalam ber-’iedul fitri dan ber-’iedul adha juga mesti bersama-sama, dan tidak masing-masing. Itulah tuntunan syariat Islam berdasarkan hadits-hadits dan praktik ummat Islam sejak generasi salaf dan seterusnya sepanjang sejarah panjang ummat. Ini tentu maksudnya untuk satu negara tertentu, atau satu wilayah tertentu, atau satu daerah tertentu. Sementara itu adanya perbedaan di tataran praktek hanyalah ditolerir jika terjadi antar negara, atau antar wilayah yang berjauhan saja.

Kedua: Masalah perbedaan dalam hal penentuan awal Ramadhan, ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, adalah salah satu contoh masalah dimana adanya perbedaan (ikhtilaf) hanya ditolerir dalam hal metode dan cara penentuan di tataran teori dan wacana saja, tapi tidak ditolerir berlanjutnya perselisihan tersebut di tataran praktek dan implementasi di lapangan riil. Inilah yang kita tahu dan catat dari praktik imam-imam dan ulama-ulama berbagai generasi sepanjang sejarah ummat Islam. Dimana sejak dulu telah dan selalu terjadi perbedaan dan perselisihan antar madzhab para imam dan ulama dalam cara, teori, dan wacana penentuan serta penetapan, antara metode rukyah dan hisab, bahkan antara metode rukyah global dan rukyah lokal, yang semestinya sangat logis jika hasil keputusannya akan beda. Namun ternyata perbedaan itu tidak terjadi dan tidak terlihat di tataran realita. Karena secara praktek, para ulama, dan seluruh ummat bermakmum pada mereka, yang senantiasa berbeda secara teori dan wacana, ternyata selalu saja bersepakat dan bersama-sama dalam mengawali puasa Ramadhan, ber-’iedul fitri dan ber-’iedul adha, kecuali antar wilayah yang berjauhan.

Ketiga: Kita ummat Islam di Indonesia, apalagi sebagai komunitas muslim terbesar, rasanya dan semestinya patut malu dan sangat malu, jika sampai dalam hal momen-momen kejamaahan, kebersamaan dan persatuan, serta kegembiraan seperti ini, ternyata kita masih saja tetap “bersikeras” untuk berbeda dan berselisih, serta belum siap dan belum “mau” bersepakat dan bersatu. Padahal saat ini, mungkin hanya tinggal Indonesia saja, satu-satunya negara di dunia, dimana ummat Islam-nya masih tetap belum “mau” dan belum bisa sepakat serta bersatu. Sedangkan ummat Islam lain di tiap negara di dunia, telah bisa sepakat dan bersatu dalam memulai shaum Ramadhan, ber-’iedulfitri dan ber-’iedul adha. Dan jika dalam hal yang paling mungkin untuk disatukan seperti ini saja, kita masih belum siap dan belum bisa bersatu, maka bagaimana lagi dengan harapan penyatuan dalam hal-hal lain?

Akhir kata, meskipun andai faktanya memang benar-benar kita masih belum bisa bersepakat dan bersatu, namun tetap saja perbedaan dan perselisihan yang terjadi, mesti dan harus kita semua sikapi dengan arif, bijak, dewasa, dan proporsional, dengan mengedepankan sikap tafahum (saling bisa memahami), ta’adzur (saling memaklumi), dan tasamuh (saling bertoleransi). Sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang lebih negatif lagi. Semoga Allah merahmati kita semua untuk bisa sukses dalam mujahadah menggapai taqwa di bulan tarbiyah dan tazkiyah nan suci serta mulia ini. Taqabbalallahu minnaa wa minkum! Aamiin!

sumber: PKS Jatim Online





Membangun dan Membina Militansi Kita

13 06 2008

oleh: (Alm) Ust. Rahmat Abdullah

PK-Sejahtera Online: Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Ba’da tahmid wa shalawat

Ikhwah rahimakumullah, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat 19 Ayat 12 : …..
Ya Yahya hudzil kitaaba bi quwwah …” (QS. Maryam (19):12)

Tatkala Allah SWT memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas, Ia tak hanya menyuruh mereka untuk taat melaksanakannya melainkan juga harus mengambilnya dengan quwwah yang bermakna jiddiyah, kesungguhan-sungguhan.

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad.

Namun kebatilan pun dibela dengan sungguh-sungguh oleh para pendukungnya, oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib ra menyatakan: “Al-haq yang tidak ditata dengan baik akan dikalahkan oleh Al-bathil yang tertata dengan baik”.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Allah memberikan ganjaran yang sebesar-besarnya dan derajat yang setinggi-tingginya bagi mereka yang sabar dan lulus dalam ujian kehidupan di jalan dakwah. Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja tentu mereka tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat. Di situlah letak hikmahnya yakni bahwa seorang da’i harus sungguh-sungguh dan sabar dalam meniti jalan dakwah ini. Perjuangan ini tidak bisa dijalani dengan ketidaksungguhan, azam yang lemah dan pengorbanan yang sedikit.

Ali sempat mengeluh ketika melihat semangat juang pasukannya mulai melemah, sementara para pemberontak sudah demikian destruktif, berbuat dan berlaku seenak-enaknya. Para pengikut Ali saat itu malah menjadi ragu-ragu dan gamang, sehingga Ali perlu mengingatkan mereka dengan kalimatnya yang terkenal tersebut.

Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Ketika Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam:

“Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12 :

“Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).

Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah,
Di antara sekian jenis kemiskinan, yang paling memprihatinkan adalah kemiskinan azam, tekad dan bukannya kemiskinan harta.

Misalnya anak yang mendapatkan warisan berlimpah dari orangtuanya dan kemudian dihabiskannya untuk berfoya-foya karena merasa semua itu didapatkannya dengan mudah, bukan dari tetes keringatnya sendiri. Boleh jadi dengan kemiskinan azam yang ada padanya akan membawanya pula pada kebangkrutan dari segi harta. Sebaliknya anak yang lahir di keluarga sederhana, namun memiliki azam dan kemauan yang kuat kelak akan menjadi orang yang berilmu, kaya dan seterusnya.

Demikian pula dalam kaitannya dengan masalah ukhrawi berupa ketinggian derajat di sisi Allah. Tidak mungkin seseorang bisa keluar dari kejahiliyahan dan memperoleh derajat tinggi di sisi Allah tanpa tekad, kemauan dan kerja keras.

Kita dapat melihatnya dalam kisah Nabi Musa as. Kita melihat bagaimana kesabaran, keuletan, ketangguhan dan kedekatan hubungannya dengan Allah membuat Nabi Musa as berhasil membawa umatnya terbebas dari belenggu tirani dan kejahatan Fir’aun.

Berkat do’a Nabi Musa as dan pertolongan Allah melalui cara penyelamatan yang spektakuler, selamatlah Nabi Musa dan para pengikutnya menyeberangi Laut Merah yang dengan izin Allah terbelah menyerupai jalan dan tenggelamlah Fir’aun beserta bala tentaranya.

Namun apa yang terjadi? Sesampainya di seberang dan melihat suatu kaum yang tengah menyembah berhala, mereka malah meminta dibuatkan berhala yang serupa untuk disembah. Padahal sewajarnya mereka yang telah lama menderita di bawah kezaliman Fir’aun dan kemudian diselamatkan Allah, tentunya merasa sangat bersyukur kepada Allah dan berusaha mengabdi kepada-Nya dengan sebaik-baiknya. Kurangnya iman, pemahaman dan kesungguh-sungguhan membuat mereka terjerumus kepada kejahiliyahan.

Sekali lagi marilah kita menengok kekayaan sejarah dan mencoba bercermin pada sejarah. Kembali kita akan menarik ibrah dari kisah Nabi Musa as dan kaumnya.

Dalam QS. Al-Maidah (5) ayat 20-26 : “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”.

“Hai, kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari negri itu. Jika mereka keluar dari negri itu, pasti kami akan memasukinya”.

“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

“Mereka berkata: “Hai Musa kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

“Berkata Musa: “Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasiq itu”.

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasiq itu”.
Rangkaian ayat-ayat tersebut memberikan pelajaran yang mahal dan sangat berharga bagi kita, yakni bahwa manusia adalah anak lingkungannya. Ia juga makhluk kebiasaan yang sangat terpengaruh oleh lingkungannya dan perubahan besar baru akan terjadi jika mereka mau berusaha seperti tertera dalam QS. Ar-Ra’du (13):11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sampai mereka berusaha merubahnya sendiri”.

Nabi Musa as adalah pemimpin yang dipilihkan Allah untuk mereka, seharusnyalah mereka tsiqqah pada Nabi Musa. Apalagi telah terbukti ketika mereka berputus asa dari pengejaran dan pengepungan Fir’aun beserta bala tentaranya yang terkenal ganas, Allah SWT berkenan mengijabahi do’a dan keyakinan Nabi Musa as sehingga menjawab segala kecemasan, keraguan dan kegalauan mereka seperti tercantum dalam QS. Asy-Syu’ara (26):61-62, “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”.

Semestinya kaum Nabi Musa melihat dan mau menarik ibrah (pelajaran) bahwa apa-apa yang diridhai Allah pasti akan dimudahkan oleh Allah dan mendapatkan keberhasilan karena jaminan kesuksesan yang diberikan Allah pada orang-orang beriman. Allah pasti akan bersama al-haq dan para pendukung kebenaran. Namun kaum Nabi Musa hanya melihat laut, musuh dan kesulitan-kesulitan tanpa adanya tekad untuk mengatasi semua itu sambil di sisi lain bermimpi tentang kesuksesan. Hal itu sungguh merupakan opium, candu yang berbahaya. Mereka menginginkan hasil tanpa kerja keras dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah “qaumun jabbarun” yang rendah, santai dan materialistik. Seharusnya mereka melihat bagaimana kesudahan nasib Fir’aun yang dikaramkan Allah di laut Merah.

Seandainya mereka yakin akan pertolongan Allah dan yakin akan dimenangkan Allah, mereka tentu tsiqqah pada kepemimpinan Nabi Musa dan yakin pula bahwa mereka dijamin Allah akan memasuki Palestina dengan selamat.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. 47:7, “In tanshurullah yanshurkum wayutsabbit bihil aqdaam” (Jika engkau menolong Allah, Allah akan menolongmu dan meneguhkan pendirianmu).
Hendaknya jangan sampai kita seperti Bani Israil yang bukannya tsiqqah dan taat kepada Nabi-Nya, mereka dengan segala kedegilannya malah menyuruh Nabi Musa as untuk berjuang sendiri. “Pergilah engkau dengan Tuhanmu”. Hal itu sungguh merupakan kerendahan akhlak dan militansi, sehingga Allah mengharamkan bagi mereka untuk memasuki negri itu. Maka selama 40 tahun mereka berputar-putar tanpa pernah bisa memasuki negri itu.

Namun demikian, Allah yang Rahman dan Rahim tetap memberi mereka rizqi berupa ghomama, manna dan salwa, padahal mereka dalam kondisi sedang dihukum.

Tetapi tetap saja kedegilan mereka tampak dengan nyata ketika dengan tidak tahu dirinya mereka mengatakan kepada Nabi Musa tidak tahan bila hanya mendapat satu jenis makanan.

Orientasi keduniawian yang begitu dominan pada diri mereka membuat mereka begitu kurang ajar dan tidak beradab dalam bersikap terhadap pemimpin. Mereka berkata: “Ud’uulanaa robbaka” (Mintakan bagi kami pada Tuhanmu). Seyogyanya mereka berkata: “Pimpinlah kami untuk berdo’a pada Tuhan kita”.

Kebodohan seperti itu pun kini sudah mentradisi di masyarakat. Banyak keluarga yang berstatus Muslim, tidak pernah ke masjid tapi mampu membayar sehingga banyak orang di masjid yang menyalatkan jenazah salah seorang keluarga mereka, sementara mereka duduk-duduk atau berdiri menonton saja.

Rasulullah saw memang telah memberikan nubuwat atau prediksi beliau: “Kelak kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian selangkah demi selangkah, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta dan sedepa demi sedepa”. Sahabat bertanya: “Yahudi dan Nasrani ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Siapa lagi?”.

Kebodohan dalam meneladani Rasulullah juga bisa terjadi di kalangan para pemikul dakwah sebagai warasatul anbiya (pewaris nabi). Mereka mengambil keteladanan dari beliau secara tidak tepat. Banyak ulama atau kiai yang suka disambut, dielu-elukan dan dilayani padahal Rasulullah tidak suka dilayani, dielu-elukan apalagi didewakan. Sebaliknya mereka enggan untuk mewarisi kepahitan, pengorbanan dan perjuangan Rasulullah. Hal itu menunjukkan merosotnya militansi di kalangan ulama-ulama amilin.
Mengapa hal itu juga terjadi di kalangan ulama, orang-orang yang notabene sudah sangat faham. Hal itu kiranya lebih disebabkan adanya pergeseran dalam hal cinta dan loyalitas, cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya telah digantikan dengan cinta kepada dunia.

Mentalitas Bal’am, ulama di zaman Fir’aun adalah mentalitas anjing sebagaimana digambarkan di Al-Qur’an. Dihalau dia menjulurkan lidah, didiamkan pun tetap menjulurkan lidah. Bal’am bukannya memihak pada Musa, malah memihak pada Fir’aun. Karena ia menyimpang dari jalur kebenaran, maka ia selalu dibayang-bayangi, didampingi syaithan. Ulama jenis Bal’am tidak mau berpihak dan menyuarakan kebenaran karena lebih suka menuruti hawa nafsu dan tarikan-tarikan duniawi yang rendah.

Kader yang tulus dan bersemangat tinggi pasti akan memiliki wawasan berfikir yang luas dan mulia. Misalnya, manusia yang memang memiliki akal akan bisa mengerti tentang berharganya cincin berlian, mereka mau berkelahi untuk memperebutkannya. Tetapi anjing yang ada di dekat cincin berlian tidak akan pernah bisa mengapresiasi cincin berlian. Ia baru akan berlari mengejar tulang, lalu mencari tempat untuk memuaskan kerakusannya. Sampailah anjing tersebut di tepi telaga yang bening dan ia serasa melihat musuh di permukaan telaga yang dianggapnya akan merebut tulang darinya. Karena kebodohannya ia tak tahu bahwa itu adalah bayangan dirinya. Ia menerkam bayangan dirinya tersebut di telaga, hingga ia tenggelam dan mati.

Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh, dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian.

Nabi Yusuf as sebuah contoh keistiqomahan, ia memilih di penjara daripada harus menuruti hawa nafsu rendah manusia. Ia yang benar di penjara, sementara yang salah malah bebas.

Ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari kisah Nabi Yusuf as. Wanita-wanita yang mempergunjingkan Zulaikha diundang ke istana untuk melihat Nabi Yusuf. Mereka mengiris-iris jari-jari tangan mereka karena terpesona melihat Nabi Yusuf. “Demi Allah, ini pasti bukan manusia”. Kekaguman dan keterpesonaan mereka pada seraut wajah tampan milik Nabi Yusuf membuat mereka tidak merasakan sakitnya teriris-iris.

Hal yang demikian bisa pula terjadi pada orang-orang yang punya cita-cita mulia ingin bersama para nabi dan rasul, shidiqin, syuhada dan shalihin. Mereka tentunya akan sanggup melupakan sakitnya penderitaan dan kepahitan perjuangan karena keterpesonaan mereka pada surga dengan segala kenikmatannya yang dijanjikan.

Itulah ibrah yang harus dijadikan pusat perhatian para da’i. Apalagi berkurban di jalan Allah adalah sekedar mengembalikan sesuatu yang berasal dari Allah jua. Kadang kita berat berinfaq, padahal harta kita dari-Nya. Kita terlalu perhitungan dengan tenaga dan waktu untuk berbuat sesuatu di jalan Allah padahal semua yang kita miliki berupa ilmu dan kemuliaan keseluruhannya juga berasal dari Allah. Semoga kita terhindar dari penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan tetap memiliki jiddiyah, militansi untuk senantiasa berjuang di jalan-Nya. Amin.
Wallahu a’lam bis shawab

Catatan Untuk Murabbi: Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader Memahami urgensi militansi kader dalam pemenangan dakwah serta memahami cara-cara membina militansi kader





POS KTA (Kartu Tanda Anggota)

13 06 2008

Dalam waktu 2 pekan ke depan, PKS DPC Rungkut akan punya “gawe” KTA-isasi. Program ini untuk lebih merapikan data anggota yang berada di wilayah kecamatan Rungkut. Diharapkan dengan program ini pelayanan dan pemberdayaan anggota oleh struktur partai bisa lebih efektif, efisien dan terarah. Selain itu kekuatan konstituen di wilayah Rungkut akan lebih mudah untuk dipetakan.

POS KTA direncanakan ada di setiap kelurahan di wilayah Rungkut. Pendaftaran KTA sama sekali tidak dipungut biaya. Pendaftar cukup menuliskan identitas pribadi pada sebuah buku besar di tempat yang nantinya ditunjuk sebagai POS KTA. Dalam waktu dekat akan dipasang spanduk informasi lengkap lokasi POS KTA di tempat-tempat strategis.

Info lebih lanjut bisa menghubungi Bpk. Yusuf 08123131403





PKS Jatim Ikrar Dukung Kar-Sa

13 06 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ribuan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) se Surabaya, Sidoarjo dan Gresik menggelar ikrar bersama mendukung pasangan calon Gubernur Jawa Timur di Gelora Pancasila Jalan Indragiri Surabaya, siang ini (8/6).

Acara yang juga dikemas untuk memperingati milad (ulang tahun) PKS yang ke-10 ini juga dihadiri oleh Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid, Calon Gubernur Soekarwo, Ketua DPP PKS Jatim-Bali Sigit Sosiantomo, Ketua DPW PKS Jatim Ja’far Trikuswahyono, serta beberapa pengurus PKS baik ditingkatan DPW maupun DPD-DPD se-Jatim.

Dalam sambutannya, ketua PKS Jatim Ja’far Trikuswahyono, meminta seluruh kader untuk bisa membantu pemenangan pencalonan Soekarwo-Syaifullah Yusuf dalam pilkada 23 Juli mendatang.

“Kita semua harus melakukan kampanye dengan santun dan damai serta mengikuti pola 1-10-4 yang artinya tiap kader harus bisa merekrut 10 keluarga yang didalam keluarga tersebut masing-masing terdiri dari 4 orang, jadi tiap kader harus bisa merekrut 40 pemilih,” kata Ja’far.

Dengan strategi ini, PKS yakin minimal akan menyumbangkan sebanyak 24 juta suara bagi kemenangan Karsa. Karennya, meski PKS bukanlah partai pengusung pasangan ini, namun dukungan PKS diyakini akan bisa mendongkrak suara pencalonan Karsa.

Dukungan PKS sendiri, lanjut Ja’far dilakukan karena adanya kesamaan visi dan misi antara partainya dengan yang dibawa oleh Karsa. Kesamaan visi dan misi tersebut bahkan sudah dituangkan kedalam kontrak politik antara keduanya yang berisi jika nantinya menang Soekarwo diharuskan untuk memimpin Jatim dengan bersih dan berkomitment untuk memberantas KKN.

Selain itu, kontrak tersebut juga mengikat Soekarwo untuk menjalankan pemerintahan yang pro rakyat. Dan terakhir adalah keharusan bagi Karsa untuk bisa menjalankan pemerintahan dengan provesional.

Sementara itu, meski PKS dalam hal ini hanyalah partai pendukung, namun Hidayat Nur Wahid menantang kepada partai Pengusung untuk bisa lebih bekerja keras daripada partai pendukung. “Jangan dilihat pendukung atau pengusung, yang penting yang mengusung harus lebih giat dan memenangkan demi pemerintahan yang bersih dan santun,” kata Hidayat. PKS dalam pencalonan Soekarwo-Syaifullah Yusuf memang hanyalah partai pendukung, karena pasangan ini sebenarnya diusung oleh Partai Demokrat, PAN serta PDI.

Soekarwo sendiri menjamin jika nantinya memimpin dirinya akan bersih dari KKN serta sepenuhnya mendorong pemberantasan KKN. “Slogan kami juga jelas, APBD untuk rakyat, sehingga dengan cara-cara yang profesional kami pasti menjalankan amanah ini,” kata Soekarwo.

Peringatan Milad serta ikrar kesetiaan kader PKS ini kemudian diakhiri dengan pembacaan bersama ikrar yang dipimpin oleh Ketua DPP PKS Jatim-Bali Sigit Sosiantomo. dan disaksikan langsung oleh Hidayat Nur Wahi, Sigit membacakan ikrar bersama yang berbunyi. “Kami para kader dan simpatisan PKS dengan sepenuh hati berikrar, bertekad untuk memenangkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 dalam rangka mewujudkan Jawa Timur yang bersih Peduli Profesional menuju Masyarakat adil dan Sejahtera”.

Usai ikrar, ribuan massa kader dan simpatisan PKS kemudian langsung meninggalkan lokasi acara untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Rohman Taufiq

sumber: DPW PKS Jawa Timur





MILAD X PKS

13 06 2008

Milad PKS yang ke-10 ini terasa istimewa, Dua belas Ribu Kader dan simpatisan PKS Surabaya dan Sidoarjo datang berduyun-duyun memadati Gelora Pancasila. Massa datang berombongan yang terlebih dulu berpawai menggunakan angkutan Umum, mobil, dan sepeda motor. Dihadiri oleh Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid dan salah seorang Anggota Fraksi PKS DPR RI, Soeripto, serta pimpinan PKS tingkat wilayah. Acara Milad PKS ke 10 ini berjalan dengan meriah, antusias, dan tertib menunjukkan PKS tetap sebagai partai yang santun.

Sigit Sosiantomo, Ketua Wilda Jatim Bali, mengatakan bahwa 10 tahun yang lalu gedung gelora ini dipenuhi oleh lima ribuan kader dan simpatisan yang berasal dari seluruh Jawa Timur. Semuanya seragam menggunakan warna putih, sehingga waktu itu PKS dikenal dengan massa santun didunia yang bergetah. Namun saat ini, diusia PKS yang ke-10, warna putih telah berubah menjadi warna yang lebih beragam dari 12 ribu kader PKS yang memenuhi gedung gelora yang hanya berasal dari Surabaya-Sidoarjo.

Pengakuan akan konsistensi kiprah PKS dikemukan oleh Cak Kadar, Budayawan Pusura sekaligus tokoh masyarakat jatim yang hadir pada milad PKS dalam testimoninya. Ia meminta PKS agar senantiasa konsisten dalam perjuangan dakwahnya. Selain itu, Pujianto, tokoh buruh Jatim menambahkan, Anggota DPR RI PKS adalah anggota dewan yang paling getol memperjuangkan hak buruh.

Menanggapi testimoni kedua tokoh masyarakat Jatim tersebut, dalam orasi politiknya, Hidayat Nur Wahid mengemukakan hal itu dikarenakan PKS bukan Partai politik yang absurd (tidak jelas) visinya sehingga kurun waktu 10 tahun, PKS tetap mampu menunjukkan kekhasan dalam kiprah politiknya.

Sejak tahun 1999 dalam kancah perpolitikan indonesia, PKS senantiasa menyajikan kesejukan dalam berdemokrasi dan berpolitik yang selama ini menurut anggapan masyarakat jauh dari citra parrtai politik. Politik yang disajikan PKS merupakan politik yang berpihak kepada mereka yang ekonomi, kesehatan, kesejahteraannya lemah untuk mewujudkan masyarakat madani.

Hidayat menambahkan, masyarakat madani tidak sama dengan masyarakat medeni (menakutkan-red). masyarakat madani adalah masyarakat yang anti terhadap segala bentuk kekerasan, anarki,dan fanatisme. Sikap ini ditunjukkan PKS dengan menolak segala bentuk kekerasan berupa penodaan ajaran agama yang menjadi berita terpanas di media. Namun, tidak lantas menyebabkan PKS berbuat anarki dan melakukan tindak kekerasan fisik. Melainkan, menyerahkan penyelesaannya melalui proses hukum yang berlaku karena masyarakat madani adalah masyarakat yang tidak taqlid buta, tidak ikut-ikutan, masyarakat yang berbeda dari masyarakat sebelumnya, masyarakat yang memanusiakan manusia, bukan yang hanya bisa maido (menyalahkan-red).

Sehingga PKS bekomitmen untuk memberdayakan ekonomi petani, butuh, dan nelayan dengan kebijakan-kebijakan yang memanusiakan, menjalin silaturahim yang kuat antara rakyat dengan rakyat, rakyat dengan penjabat karena masyarakat madani bukan hanya masyarakat duniawi yang hanya beriorientasi pada kekuasaan, melainkan kekuasaan itu untuk mendukung nilai-nilai kemaslahatan dan menghadirkan dinul islam dalam kehidupan berkebangsaan.

PKS sejak awal hadir sebagai kumpul anak bangsa yang bertekad memberikan kontribusi positif kepada rakyat indonesia tercinta ini. Bagi PKS berpartai adal;ah ibadah sebagai suatu upaya memberikan kemanfaatan kepada masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khsusnya, demikian yang disampaikan Ja’far Tri Kuswwahyono, Ketua DPW PKS Jatim periode 2006-2011.

Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawabnya kepada umat dan masyarakat, PKS di Jawa Timur telah membuktikan kiprahnya melalui Gerakan Pemuda Keadilan (Gema Keadilan), Pos Penanggulangan Bencana (P2B), Pelayanan Rakyat Adil Sejahtera (PRAS), Pos Wanita Keadilan (PWK).

Harapan lainnya diusia PKSyang ke-10 ini, Jafar mengungkapkan Bersama 60 ribu kader, PKS Jawa Timur tetap pada tujuan semula yaitu berkeinginan mewujudkan masyarakat Jawa Timur yang Adil, Sejahtera, dan Bermartabat. Perubahan itu akan diperjuangkan secara bertahap,gradual, dan melalui saluran-saluran yang diatur dalam konstitusi negara. (ir)

sumber: DPW PKS Jawa Timur





MILAD PKS DAN DEKLARASI PEMENANGAN KAR-SA

6 06 2008

Ayo hadiri acara Milad PKS ke 10 sekaligus deklarasi dukungan pemenangan PKS kepada pasangan Cagub dan Cawagub KAR-SA. Ahad, 8 Juni 2008, mulai pukul 08.00 pagi sampai selesai di GOR Pancasila Surabaya. Orasi politik oleh Ust. Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR RI). Jangan lupa bawa para simpatisan :)

karsa-pks