PKS Islam Moderat

24 11 2008

Boleh saja sejumlah simpatisan dan anggota PKS berpakaian muslim yang terkesan konservatif, namun untuk visi dan pikiran mereka berbanding terbalik dengan penampilan mereka. Itu terlihat dari cara menggaet anggota baru dan meraih dukungan yang jauh dari kesan konservatif. Di tengah semakin tingginya tingkat konektivitas internet di Indonesia, PKS tak melewatkan begitu saja kesempatan ‘bermain’ di dunia maya.

Mungkin dari sejumlah partai politik di Indonesia yang akan bertarung pada Pemilu 2009, PKS menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan teknologi informasi dalam meluaskan jaringan atau menjaring simpatisan baru. Tak hanya itu, gaya kampanye yang dituangkan dalam sejumlah spanduk atau baliho dan media lainnya, juga amat dekat dengan gaya kaum muda yang jauh dari konservativisme.
Selengkapnya





Kematian Hati

21 11 2008

PK-Sejahtera Online: Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.

Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.

Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.
Selengkapnya





PKS Di Mata Pimred Jawa Pos

20 11 2008

“PKS sudah mencitrakan diri menjadi partai yang tenang, responsif, selalu bekerja setiap hari (tidak lima tahun sekali), menjunjung nilai-nilai keluarga, tertib di jalan, menjunjung moralitas di legislatif, serta antikorupsi dalam perkataan maupun perbuatan, demo di hari libur (mendapat liputan luas media)” Rohman Budijanto, Pimred Jawa Pos pada Pelatihan Tim Media PKS jatim, 16 Nopember 2008.

sumber: PKS Jatim online





PKS Merangkul Semua Golongan

17 11 2008

Delepan tokoh yang ada dalam iklan PKS, sebagai simbol kekuatan golongan-golongan di Indonesia. “Sehingga, bila suatu saat PKS ditakdirkan memimpin negeri ini, PKS akan merangkul seluruh kekuatan besar tersebut,” terang Anis.

PK-Sejahtera Online: Iklan PKS di televisi dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 Nopember, memiliki pesan rekonsiliasi nasional. Demikian disampaikan Sekjen PKS Anis Matta dalam acara Talk Show di sebuah stasiun Radio Swasta, Sabtu, (15/11). Lebih jauh lagi Anis menyatakan bahwa PKS ingin mengajak seluruh komponen bangsa turut aktif dalam perbaikan negeri. Untuk membangun bangsa Indonesia yang besar, menurut Anis diperlukan kontribusi dari seluruh golongan. Dan delepan tokoh yang ada dalam iklan PKS tersebut, menurutnya sebagai simbol kekuatan golongan-golongan di Indonesia.

“Sehingga, bila suatu saat PKS ditakdirkan memimpin negeri ini, PKS akan merangkul seluruh kekuatan besar tersebut,” terang Anis.
Selengkapnya





Iklan Hari Pahlawan PKS Salah

13 11 2008

Jakarta – PKS meluruskan kontroversi iklan Hari Pahlawan yang menampilkan mantan Presiden Soeharto. Iklan yang menempatkan Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa itu disebut salah. Iklan itu berbeda dengan konsep yang disodorkan ke Presiden PKS Tifatul Sembiring.

“Waktu saya pertama kali ditanya detikcom (Senin 10/11), bayangan saya iklan itu sesuai dengan konsep yang ditunjukkan di awal,” kata Presiden PKS Tifatul Sembiring saat dihubungi detikcom, Rabu (12/11/2008).

Menurut Tifatul, konsep awal yang disodorkan kepadanya oleh pihak kesekjenan PKS tidak seperti yang ditayangkan di televisi. Tifatul lantas menjelaskan konsep awal iklan Hari Pahlawan PKS yang diingatnya. Dalam konsep itu, saat scene awal, tokoh yang muncul pertama kali adalah Soekarno dan Soeharto. Kedua tokoh ini dikuti tulisan berbunyi ‘mereka sudah memberikan apa yang mereka bisa.’ Lalu dalam scene berikutnya muncul tokoh Jenderal Soedirman dan Bung Tomo yang diberi komentar ‘mereka telah memberikan apa yang mereka punya.’ Gambar berikutnya adalah KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan yang disusul tulisan ‘mereka adalah guru bangsa.’ Terakhir barulah tokoh Mohammad Hatta dan Moh Natsir dengan komentar ‘mereka adalah pahlawan kita.’

“Kalau ‘mereka sudah memberikan apa yang mereka bisa’ itu kan pernyataan yang umum. Soal benar atau salah apa yang mereka lakukan, itu silakan masyarakat yang menilai,” papar Tifatul.

Tak Pernah Akui Soeharto Pahlawan

Tifatul menegaskan, PKS tidak pernah mengakui Soeharto sebagai pahlawan maupun guru bangsa. “Perlu saya luruskan, itu tidak benar. Apa hak kita mengakui Soeharto sebagai pahlawan, wong pemerintah saja belum mengakui? Bung Tomo saja baru diakui tahun ini. Mengapa kita jadi genit-genitan mengakui Soeharto sebagai pahlawan?” tandasnya panjang lebar. Di internal PKS juga tidak pernah ada wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. Tokoh ini, menurut Tifatul, masih kontroversial sehingga belum bisa diputuskan apakah dia layak menerima gelar pahlawan atau tidak.

“Kalau pinjam bahasanya Gus Dur, Soeharto itu besar jasanya, tapi dosanya juga banyak,” ucapnya.

Yang jelas, akunya, secara pribadi dia tidak setuju mantan penguasa Orde Baru itu dianugerahi gelar pahlawan.

“Kita partai reformis. Dulu kita kan ikut menumbangkan Soeharto. Kalau saya pribadi tidak setuju,” tegasnya. (sho/iy)

sumber: detiknews.com





Iklan TV PKS: Hari Pahlawan

11 11 2008





KARSA: Satu Suara untuk Kemakmuran Jatim

3 11 2008

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-mbak,

Jangan lupa besok Selasa (4/11) pagi: COBLOS BRENGOSE!

SURYA – Friday, 31 October 2008
DUKUNGAN pada pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) terus mengalir menjelang pilgub putaran kedua,  4 November pekan depan. Baik dari partai politik (parpol) yang jagonya telah tumbang di putaran pertama, maupun dari kelompok-kelompok masyarakat. Dari parpol, dukungan ‘paling mantap’ datang dari kekuatan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Golkar. Disebut ‘paling mantap’ karena keduanya merupakan parpol besar di Jatim.
PKB menyandang status sebagai pemenang Pemilu 2004 dengan perolehan sekitar 31 persen suara. Sementara Golkar tercatat sebagai pemenang ketiga dengan perolehan sekitar 12,8 persen suara. Ketua Dewan Syura DPW PKB Jatim KH Abd Aziz Manshur menyatakan, dukungan pada pasangan KarSa itu sudah melalui pertimbangan yang sangat matang. Pasangan pemilik ikon brengos ini dianggap paling memenuhi syarat untuk memimpin provinsi berpenduduk mayoritas nahdliyyin ini. Kemampuan memimpin yang dimilikinya jauh lebih bisa menjamin terpenuhinya kepentingan warga NU, yang merupakan pendukung utama PKB. Begitu pula dengan komitmen menjaga tradisi dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi NU. Salah satu indikatornya, kata KH Abdul Aziz, pasangan ini pribdinya cukup bersih, termasuk juga orang-orang di belakangnya. “Pertimbangan itu kemudian diperkuat hasil istikharah (salat minta petunjuk) para kiai,” katanya.

Dukungan PKB Jatim ini kemudian diperkuat Partai Golkar. Bedanya, dukungan partai bergambar pohon beringin ini tidak muncul dari DPD Jatim, melainkan langsung dari DPD kota/kabupaten. Ada 34 Golkar kota/kabupaten yang kini sudah menghidupkan mesin politiknya untuk pemenangan KarSa. Praktis hanya empat Golkar kota/kabupaten yang tidak ikut bergabung. Masing-masing Ngawi, Kab Madiun, Pacitan, dan Trenggalek. Ketua Golkar Surabaya Eddy Budi Prabowo mengatakan, alasan utama membawa partainya mendukung KarSa karena pasangan ini paling mampu mengakomodasi kepentingan lintas golongan dan kekuatan lewat cara-cara dialog dan pendekatan persuasif. “Kemampuan seperti ini ini sangat dibutuhkan untuk memimpin Jatim yang penduduknya sangat besar dan punya beragam latar belakang,” kata Eddy Budi Prabowo.
Tambahan kekuatan dari PKB dan Golkar ini sekarang telah mengubah warna barisan KarSa menjadi pelangi. Ya, pelangi yang mempertemukan berbagai warga kepentingan politik dan golongan dalam satu barisan.
Maklum sebelumnya, sudah ada tiga parpol yang menjadi barisan pemenangannya. Masing-masing Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan partai berbasis kaum agamis, Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
“Sekarang semakin terbukti kalau Pakde Karwo bukan gubernur-nya golongan, tapi untuk semua rakyat Jatim,” tutur Achmad Rubaie, Wakil Ketua DPW PAN Jatim.
Rubaie menambahkan kekuatan besar parpol-parpol parlemen ini bukan hanya dibutuhkan untuk mesin pemenangan pilgub. Lebih penting dari itu justru bila seorang calon terpilih. Kekuatan dibutuhkan untuk mengawal, bahkan menjamin realisasi komitmen calon jika terpilih nantinya. Barisan besar ini yang pertama kali akan menagih bila gubernur hasil dukunganya terindikasi hendak mengingkari komitmen yang pernah dijanjikan. Sebaliknya kekuatan ini akan membentenginya manakala ada kekuatan politik yang mengganggu realisasi program. “Dengan begitu, program-program kemakmuran dan kesejahteraan yang dijanjikan bisa berjalan efektif. Kami tidak ingin seperti yang terjadi di sejumlah daerah. Kepala daerah terpilih tidak bisa melaksanakan janjinya karena tidak akomodatif dan posisinya di parlemen lemah,” jelasnya. (ian)