Fandi Utomo-Yulius Bustami Siap Ayomi dan Jaga Surabaya

30 04 2010

Fandi Utomo & Yulius Bustami

Fandi Utomo & Yulius Bustami

SURABAYA -Perbedaan latar belakang partai yang mengusung pasangan nomor urut dua, Fandi Utomo dan Yulius Bustami, justru makin mengibarkan jargon Surabaya untuk semua dalam pemilihan wali kota kali ini. Jargon itu memiliki makna yang cukup dalam. Makna itu bisa dilihat dari partai yang mengusung keduanya. Mereka diusung PPP, PKS, PKNU, dan PDS. Tiga partai di antaranya merupakan partai dengan napas Islam yang kental, sedangkan PDS berlatar belakang Kristen. Meski demikian, empat partai tersebut bisa menyandingkan Fandi dan Yulius untuk maju dalam pilwali Surabaya.

Bagi Fandi, Surabaya merupakan kota heterogen. Hal tersebut bisa dilihat dari agama, pekerjaan, maupun etnis warganya. Mayoritas warga Surabaya memang memeluk agama Islam. ”Tapi, agama-agama lain juga tumbuh di Kota Pahlawan. Yakni, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu,” jelasnya.

Pekerjaan masyarakat Surabaya juga beragam. Di antaranya, petani, nelayan, pedagang, pegawai, dan pengusaha. Berbicara mengenai etnis, Surabaya tidak hanya dihuni suku Jawa. Banyak warga Madura, etnis Arab, dan etnis Tionghoa yang tinggal di Surabaya.

Dengan adanya keragaman itu, Surabaya membutuhkan wali kota yang bisa mengayomi secara adil. “Kami harus mampu menciptakan kesejahteraan untuk semua golongan dan kelompok. Karena itu, kami mengusung jargon Surabaya untuk Semua,” ujar Fandi.

Surabaya untuk Semua berarti, Surabaya merupakan tempat yang nyaman dan layak dihuni oleh beragam kelompok dengan bermacam latar belakang. Berdasar sudut pandang Fandi dan Yulius, masyarakat Surabaya harus bisa merasakan kenyamanan itu secara utuh.

“Kami ingin membangun satu Surabaya yang dibangun semua masyarakat. Kami ingin menjamin terjadinya transformasi dari pluralitas agama menuju terciptanya pluralitas sosial. Itu juga menyangkut ekonomi dan budaya,” terang Fandi.

“Prinsip dasarnya, pemilik kota adalah masyarakat. Jadi, semua harus terlibat dalam pembangunan. Pembangunan itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Yulius.

Lantas, langkah awal apa yang akan dilakukan? Fandi dan Yulius menyatakan bahwa ada banyak agenda yang bakal dikerjakan. Di antaranya, membuat Kota Surabaya mampu bersaing sehingga investor tergerak untuk datang dan mendorong upaya produksi warga kota.

Namun, butuh waktu untuk mewujudkan dua hal tersebut. Karena itu, pasangan tersebut akan melakukan salah satu hal penting sebagai langkah awal. “Pada tahun pertama, kami ingin memastikan bahwa sekian orang harus bekerja dalam sekian jam,” jelas Fandi.

Bagi mereka, hal itu penting. Sebab, jika ada banyak warga kota yang tidak beraktivitas, kondisi tersebut akan mengancam kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. “Jika tidak bekerja dalam sehari hingga seminggu, mungkin tidak masalah. Tapi, kalau sudah tidak beraktivitas lebih dari sebulan, itu bisa mendorong ke arah negatif,” paparnya.

Selain mengusung visi Surabaya untuk Semua, pasangan Fandi-Yulius “menjual” konsep Surabaya Kota Maritim. Konsep tersebut, menurut Fandi, merupakan gagasan untuk mengembalikan Surabaya ke khitahnya.

Pandangan tersebut didasarkan pada sejarah Kota Surabaya. “Pada abad ke-13, Surabaya dikenal sebagai ujung galuh atau pangkalan laut dari Kerajaan Majapahit. Surabaya merupakan pintu bagi jalur-jalur perdagangan,” tutur Fandi.

Hal tersebut dibuktikan dengan dijadikannya Kota Surabaya sebagai pangkalan angkatan laut terbesar di Indonesia dan aktivitas superpadat di Tanjung Perak. “Ini merupakan salah satu potensi besar Surabaya. Dengan mengembalikan kota ini sebagai kota maritim, arus perdagangan akan semakin meningkat dan lancar,” paparnya.

Konsep besar untuk mengembalikan khitah Surabaya tersebut membuat Fandi menggandeng Yulius sebagai pasangannya. Yulius merupakan salah seorang alumnus terbaik Akademi Angkatan Laut (AAL). Pria asal Bukit Tinggi tersebut pernah memimpin Korps Pasukan Katak (Kopaska), salah satu pasukan elite di TNI-AL.

Yulius juga pernah mengenyam pendidikan tentang ilmu antiteror di Amerika Serikat. “Kompetensi beliau sangat tinggi. Itu ditunjang dengan pemahaman dan pengalaman yang begitu dalam akan dunia maritim. Karena itu, saya menggandeng beliau,” ungkap Fandi.

“Bersama beliau, saya memastikan bahwa bukan hanya Surabaya yang kembali menjadi kota maritim. Kompetensi beliau juga akan bisa menjadi jaminan terciptanya keamanan dan koordinasi sosial,” tambahnya.

Orang yang terus bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan, jauh lebih baik daripada mereka yang terus bekerja tanpa tujuan. Agaknya, peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan sosok Yulius Bustami. Sejak kecil, dia memang bercita-cita menjadi pemimpin untuk memacu hidupnya.

Suami Mimy Megaria itu mengaku selalu berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Yulius kecil selalu siap ketika ditunjuk menjadi komandan pasukan upacara. Dia juga siap saat didapuk menjadi ketua kelas selama SD hingga SMP. Jiwa pemimpin tersebut membuat Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) menunjuk Yulius sebagai komandan Pasukan Katak.

Kini, giliran Fandi Utomo yang terpincut dengan leadership Yulius. Fandi lantas meminang Yulius untuk menjadi pendamping dalam memenangkan kursi L-1. Meski harus pensiun dini dari masa tugas yang masih 12 tahun lagi, itu tidak menghalangi Yulius untuk menerima pinangan Fandi. ”Buat saya, menjadi wakil wali kota juga merupakan bagian dari mengabdi kepada negara,” ujarnya.

Karena itu, dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Ketika dipinang Fandi, dia langsung mengajukan konsep untuk Surabaya pada masa depan. Yakni, menjadikan Kota Pahlawan sebagai kota maritim yang sebenarnya. Demografi metropolis yang berada di tepi laut yang didukung Tanjung Perak membuat dia yakin bahwa mimpi tersebut bisa diwujudkan.

Kini tugas berat yang harus diselesaikan Yulius adalah mengubah paradigma militer yang kurang disukai masyarakat. Mantan Komandan Satuan Pasukan Katak (Satkopaska) tersebut harus bisa memutarbalikkan pikiran warga agar tidak lagi alergi pada militer. Dia memiliki senjata andalan untuk mengubah pikiran tersebut. Yakni, pengetahuan tentang Surabaya. Maklum, dia berada di Kota Surabaya sejak 1984. ”Saya adalah bagian dari kota ini,” tegasnya. (fim/dim/c12/mik)

sumber: jawapos.co.id


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: